BERITA

07
NOV
2018
Kisah "Gerbong Maut" di Bondowoso
  • Administrator

Stasiun Bondowoso menjadi saksi bisu terjadinya tragedi yang menewaskan masyarakat Indonesia saat menjadi tawanan Belanda. Peristiwa ini sendiri terjadi di masa transisi penjajahan Jepang ke Belanda yang membonceng sekutu.

Kisah bermula ketika Angkatan Moeda Kereta Api (AMDA) mulai merebut sistem perkeretaapian dari Jepang. Ini menjadikan sebuah pertanda berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia (DKARI).

Melalui ini, kereta api yang dulunya dikelola oleh Jepang diambil alih oleh tangan anak bangsa. Perlahan sistem perkeretaapian Indonesia dibenahi oleh DKARI dengan baik.

Pada waktu itu, DKARI hanya menghimpun untuk wilayah Jawa karena wilayah Sumatera masih terdapat beberapa jawatan kereta swasta lainnya. Muncul inisiatif untuk menyatukan itu semua dalam sebuah wadah yang terintegrasi dalam Republik Indonesia.

Pada 1947, pasukan Sekutu bersama pasukan Belanda mencoba masuk ke Indonesia. Berbagai upaya dilakukannya untuk menghalau Indonesia berdaulat. Tempat vital dikuasai termasuk stasiun kereta. Pihak Belanda melakukan penangkapan besar-besaran kepada Tentara Republik Indonesia (TRI) dan beberapa orang yang dianggap dicurigai. Mereka dibawa dan dimasukkan ke dalam penjara.

Peristiwa ini dilakukan di berbagai daerah di Indonesia termasuk Bondowoso, Jawa Timur. Para tawanan dimasukkan dalam penjara dan diinterogasi oleh pihak Belanda.

Asal muasal karena kelebihan orang, pihak Belanda mempunyai inisiatif untuk memindahkan tawanan ke penjara yang lebih besar di Surabaya.

Persiapan dilakukan untuk membawa tawanan menuju Surabaya. Kereta barang digunakan dalam perjalanan ini. Panas, pengap dan tanpa ventilasi ketika menggambarkan suasana gerbong yang sebenarnya untuk membawa barang tetapi malah digunakan untuk membawa sandera.

Galeri Kegiatan